Monday, December 05, 2005

Ingat Peraturan No. 5

Suatu hari Sang Guru sedang rapat dengan seorang rekan bisnisnya. Di
tengah-tengah rapat, tiba-tiba seorang anak buah Sang Guru masuk ke
ruang rapat sambil tersengal-sengal dan dengan kalut dia melaporkan
sesuatu kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sepenanak nasi kemudian, seorang anak buah lainnya dari Sang Guru
menginterupsi rapat dan dengan resah mengeluhkan suatu masalah yang
tampaknya membuatnya berbeban berat.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Sejenak berlalu, lagi-lagi seorang anak buah yang lain dari Sang Guru
menerobos ke ruang rapat dan dengan penuh kekesalan menyampaikan uneg-
unegnya kepada Sang Guru.

Sang Guru menjawab: "Ingat peraturan nomor 5." Mendengar ini, anak
buahnya kontan jadi tenang, meminta maaf, dan mohon diri.

Menyaksikan peristiwa itu, rekan bisnis Sang Guru tidak tahan lagi
untuk mengungkapkan rasa penasarannya. Ia bertanya: "Apa sih peraturan
nomor 5 itu?"

Sang Guru menjawab: "JANGAN SERIUS-SERIUS AMAT LAH."

"Ooo, itu peraturan yang bagus," ujar rekan bisnisnya seraya mengangguk-
angguk, "lalu, apa bunyi peraturan-peraturan lainnya?"

"Nggak ada sih, itu aja!" sahut Sang Guru sambil tersenyum lebar.


Cerita di atas mengajarkan kepada kita banyak hal mengenai kelapangan
hati. Dalam keseharian hidup, kita senantiasa berkecimpung dengan hal-
hal yang membuat kita cemas dan kesal. Andaikata kita bisa meletakkan
setiap permasalahan kita dalam perspektif yang benar-benar esensial dan
bernilai, kita akan bisa berpikir dengan lebih jernih.

Sebuah studi menunjukkan bahwa "penyebab kecemasan" orang-orang adalah:
- hal-hal yang tak pernah terjadi: 40%
- hal-hal yang silam dan tak bisa diubah: 30%
- perasaan takut sakit: 12%
- hal-hal sepele atau kurang beralasan: 10%
- masalah yang nyata/betulan: 8%

Jadi, survei membuktikan: 92% adalah kecemasan semu nan sia-sia!

Seiring dengan tumbuhnya kedewasaan spiritual kita, kita akan semakin
menyadari kenyataan bahwa sehebat apa pun, kita dan segala atribut kita
bukanlah pusat dari alam semesta. Dengan pemahaman ini, tatkala kita
menghadapi kecemasan atau kekesalan, kita bisa mengingatkan diri bahwa
apa yang terjadi pada kita bukanlah hal yang bersifat "personal".

Alam dan kehidupan berjalan secara tidak memihak. Semakin kita mampu
menyelaraskan diri dengan jalannya kehidupan, akan semakin damai dan
bahagialah kita. Kalau kita senantiasa ingat "peraturan nomor 5", kita
akan lebih mudah untuk terus bangkit dan melenggang dalam segala
terpaan hidup.

Be happy!

-------------------------------------------------------------------
Illuminata ini disumbangkan oleh: HANDAKA VIJJANANDA di BANGKOK.

Untuk mendapatkan Illuminata secara teratur dan gratis, kirimkan email
kosong ke: ehipassiko_foundation-subscribe@yahoogroups.com. Anda akan
segera mendapatkan email dari yahoo yang menanyakan konfirmasi Anda;
silakan "reply dan send" dalam tempo tidak lebih dari 7 hari.

Illuminata disajikan oleh Ehipassiko Foundation, suatu yayasan
nonprofit nonsektarian yang bermisi mewujudkan Belas Kasih dan
Kebijaksanaan melalui penerbitan buku, media elektronik, ceramah, dan
program pelajar asuh. Buku-buku Ehipassiko tersedia di Gramedia atau
dapat dibeli online di www.karaniya.com. Keuntungan layanan online:
hemat 10%, bebas ongkos kirim, dan praktis.

EHIPASSIKO FOUNDATION
BE GOOD BE HAPPY
Pulo Macan I/4, Tomang, Jakarta
Tel: 021-56965128
Email: ehipassiko@time.net.my

0 Comments:

Post a Comment

<< Home