Tuesday, January 04, 2005

Tulisan Roy Sembel

WISDOM, WEB, WEALTH, HEALTH, and HAPPINESS

The two actions can be considered as a kind of Spiritual breathing;
Gratitude is where you `breathe in' and receive life giving energy;
Charity is where your `breathe out' and give back to the environment.
(Tony Buzan)

Spread love everywhere you go; first of all in your own house. Give
love to your children, to your wife and husband, to next door
neighbor .... Let no one ever come to you without leaving better and
happier.
(Mother Teresa)

====== WISDOM =====
Memberi dan Mengucap Syukur
Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono (aribowo_ps@hotmail.com) dan
Roy Sembel (Smart_WISDOM@yahoogroups.com)

Sebagian besar kita berpikir bahwa beramal atau memberi kepada orang
lain adalah bentuk dari kepedulian kita kepada orang yang
membutuhkan pertolongan kita. Padahal sesungguhnya beramal atau
menolong orang lain, bukan hanya bagi kepentingan atau kebutuhan
orang yang kita tolong, tetapi justru kitalah yang membutuhkannya.
Sehingga beramal haruslah menjadi kebutuhan kita.

Dalam sebuah eksperimen ilmiah yang dilakukan oleh Dr. David
McClelland, seorang psikolog di Universitas Harvard, Amerika
Serikat, ditemukan sebuah penemuan yang menakjubkan. Dalam
eksperimen tersebut, terhadap sekelompok mahasiswa dipertunjukkan
sebuah film tentang perjuangan seorang wanita yang memberikan
kehidupannya kepada mereka yang miskin dan terlupakan di Kalkuta,
India, yaitu kisah kehidupan Bunda Teresa. Dalam film tersebut Bunda
Teresa sedang bekerja di antara orang-orang yang miskin, sakit dan
terlupakan. Segera setelah pemutaran film tersebut, Dr. McClelland
menganalisis cairan ludah para mahasiswa tersebut dan menemukan
peningkatan yang cukup signifikan dalam kadar antibodi yang membantu
mencegah infeksi saluran pernapasan - immunoglobulin A.

Rasa belas kasihan yang timbul karena menonton pengabdian Bunda
Teresa telah menstimuli tubuh para mahasiswa tersebut sehingga
memproduksi antibodi. Dalam sebuah studi berikutnya, Dr. James House
dari Pusat Penelitian Universitas Michigan, mempelajari pengaruh
dari melakukan pekerjaan sebagai relawan bagi kaum miskin, sakit,
dan gelandangan. Para relawan tersebut bekerja dengan penuh kasih
dan kehangatan, serta ketulusan selama beberapa bulan bahkan
beberapa tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan yang penuh pengabdian
dan kasih sayang telah menyebabkan peningkatan yang menakjubkan atas
daya tahan dan vitalitas para relawan tersebut, serta secara
dramatis telah meningkatkan usia harapan hidup mereka. Rasa kasih
sayang, amal Ibadah dan perbuatan baik merupakan penyelamat
kehidupan bukan saja bagi mereka yang membutuhkan, tetapi justru
bagi diri kita sendiri.

Lakukan Saja Amal Ibadah Kita
Hal lain yang menarik dari Bunda Teresa adalah ketika beliau ditanya
mengapa beliau terus melakukan pengabdiannya, memungut mereka yang
sakit dan hampir mati, serta menyelamatkan anak-anak dari jalanan
kumuh, manakala beliau tahu bahwa masalah tersebut seperti tidak
akan pernah ada habisnya, dan bahwa apa yang beliau kerjakan
hanyalah seperti `satu tetes air di lautan' dibandingkan dengan
ribuan bahkan jutaan kaum papa dan hina yang membutuhkan uluran
tangan di dunia ini.
Beliau dengan rendah hati menjawab, "Ya, hal itu benar sekali.
Pekerjaan saya memang seperti `sebuah tetesan air di lautan', tetapi
karena tetesan tetesan kecil yang saya buat, maka lautan menjadi
lebih besar."
Kita memang tidak perlu memikirkan penyebabnya maupun dampaknya,
tetapi kita hanya perla melihat kebutuhan dari mereka yang
memerlukan pertolongan kita. "Charity sees the need, not the cause."
(Peribahasa Jerman).
Bahkan dalam semua agama di dunia, amal dan perbuatan baik menolong
sesama manusia yang membutuhkan merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan. Dalam Rukun Islam, dinyatakan bahwa Zakat (Charitable
Giving) merupakan kewajiban bagi umat muslim. Sedangkan dalam
keyakinan Kristiani dinyatakan pula oleh Yesus Kristus bahwa jika
kita tidak menolong sesama kita yang paling hina dan menderita,
tidak melawat mereka yang sakit dan dipenjara, tidak memberi makan
bagi mereka yang kelaparan, serta tidak memberikan perteduhan bagi
mereka yang tidak punya rumah, maka kita bukanlah pengikut Kristus.

Amal dan Ucapan Syukur Justru Kebutuhan Kita
Namun berdasarkan hasil penelitian dan uraian di atas, ternyata
bahwa justru kitalah yang membutuhkan menjalankan amal ibadah
tersebut. Justru dengan menjalankan amal ibadah kita memperoleh
ketenangan batin dan membuat gelombang otak kita berada pada
frekuensi yang rendah, sehingga tubuh kita menstimulasi hormon yang
akan meningkatkan daya tahan tubuh kita. Selain itu kita dapat
menjadi lebih dekat dengan pusat kesadaran tertinggi
(superconsciousness) yang berarti kita menjadi lebih cerdas secara
spiritual.

Betapa luar biasa bahwa Tuhan memberi kita kewajiban menolong
sesama, bukan hanya untuk kepentingan kaum miskin dan penderita,
tetapi juga sebenarnya untuk kebutuhan kita - untuk memperpanjang
umur kita. Seperti halnya Tuhan mewajibkan kita untuk sembahyang -
berdoa secara rutin dan teratur, bukan untuk kepentingan Tuhan,
tetapi justru agar kita dapat senantiasa menurunkan frekuensi
gelombang energi otak kita dan menjadi manusia yang lebih efektif
dan cerdas, serta agar tubuh kita dapat senantiasa kembali pada
kondisi keseimbangan (homeostatis) yang memungkinkan seluruh organ-
organ tubuh kita berfungsi normal dan baik.

Seperti kutipan dari Tony Buzan, penulis buku-buku best seller dalam
bidang berpikir kreatif dan pengembangan diri, bahwa amal dan ucapan
syukur (Charity and Gratitude) seperti halnya menghirup dan
menghembuskan napas. Kedua kegiatan ini merupakan dua sisi dari mata
uang. Keduanya merupakan sebuah pernapasan spiritual yang justru
kita butuhkan agar kita dapat memelihara kesehatan spiritualitas
kita. Ingatlah, bahwa kita adalah makhluk spiritual seperti yang
dikatakan oleh filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, "we are not
human beings having spiritual experience; we are spiritual beings
having human experience."
Kita perlu bernapas untuk melanjutkan kehidupan kita. Tanpa
melakukan pernapasan spiritual, maka kita akan menjadi lemah secara
spiritual dan bahkan secara fisik juga. Justru kitalah yang perlu
melakukan pernapasan spiritual tersebut.

Mengucap Syukur dan Menjadi Lebih Berkelimpahan
Mengucap syukur (Gratitude) merupakan ungkapan yang sering muncul
dalam Kitab Suci, selain kata-kata: kasih, sukacita dan damai
sejahtera. Hal ini menunjukkan betapa Tuhan senantiasa mengingatkan
kita betapa pentingnya perbuatan ini bagi kehidupan kita. Tuhan
telah menciptakan alam semesta dengan segala kelimpahannya untuk
kita syukuri dan nikmati. Kita diberikan kuasa untuk menjadi co-
creator, rekan sekerja Tuhan, untuk menciptakan realitas kehidupan
yang kita inginkan. Inilah yang menjadi rahasia mengapa orang-orang
sukses seperti Andrew Carnegie, Bill Gates, John Rockefeller, Alfred
Nobel, dan sebagainya adalah philanthropist (dermawan) sejati.
Mereka memahami benar makna memberi dan mengucap syukur (charity and
gratitude).

Sesungguhnya proses penciptaan realitas kehidupan kita diawali
dengan keyakinan. Cara menunjukkan keyakinan atau iman tersebut
adalah dengan mengucap syukur atas kelimpahan berkat yang diberikan
Tuhan (thankfulness in advance - to be grateful before the
creation). Jadi mengucap syukur merupakan keharusan yang tidak bisa
kita hindari jika kita ingin menciptakan atau memimpikan sesuatu.
Seringkali kita justru berdoa dalam kerangka berpikir kekurangan
(statement of lack), padahal justru sebaliknya kita harus berdoa
dengan penuh rasa syukur atas segala berkat kelimpahanNya dalam
kehidupan kita (statement of gratitude).

Kekurangan (lackness) adalah sesuatu yang tidak ada habis-habisnya.
Jika kita senantiasa merasa kekurangan, apa pun yang kita miliki
tidak akan pernah cukup. Kondisi mental dari rasa kekurangan akan
menjadi semacam afirmasi bagi kita, sehingga kehidupan kita
senantiasa berkekurangan. Demikian halnya dengan kelimpahan
(prosperity) adalah sesuatu yang juga tidak ada habis-habisnya.
Ketika kita mengucap syukur atas segala berkat Tuhan yang kita
miliki, maka Dia akan terus menambahkan kelimpahan itu dalam
kehidupan kita. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan pikiran dan
doa-doa kita.

Tahukah Anda bahwa beramal (charity) adalah pengungkapan syukur
(gratitude) kita atas anugerah kelimpahan dari Tuhan, sehingga bawah
sadar kita berpikir bahwa kita berkecukupan bahkan berkelimpahan
sehingga bisa menolong orang lain. Pesan inilah yang ditangkap alam
pikiran bawah sadar kita, menjadi sebuah afirmasi yang jika berulang-
ulang dilakukan, maka bawah sadar kita akan mencari jalan untuk
mewujudkan kehidupan berkelimpahan itu bagi kita.



=========================================
Let there be peace on earth,
and let it begin with no animal slaughter for my tongue.
Shinand
=========================================


0 Comments:

Post a Comment

<< Home